Pada kesempatan
pertama dalam rubrik Hisnul Muslim ini, kami mencoba mengulas kembali tentang
keutamaan berdzikir yang kesemuanya itu insya Allah bersumber dari hadits
shahih. Yang mana kita semua telah sama-sama mengetahui bahwa ibadah apa pun
yang kita lakukan, jika ia bersumber dari hadits shahih, maka kita telah
menyempurnakan salah satu dari syarata diterimanya amalan dalam agama kita.
Ikhlash dan ittiba’. Mengikuti hadits yang sudah di akui keshahihahnnya berarti
kita berusaha untuk menyempurnakan ittiba’ kita terhadap ajaran nabi. Lalu
penghitungan pahalanya akan sangat bergantung pada niat kita melakukan ibadah
tersebut. seperti hadits yang sering di ulang oleh para ulama dalam kitab-kitab
mereka,
Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob
radiallahuanhu,
dia berkata: Saya mendengar Rasulullah
bersabda
: Sesungguhnya setiap perbuatan(1) tergantung
niatnya(2).
Dan sesungguhnya setiap orang (akan
dibalas)berdasarkan
apa yang dia niatkan.
Siapa
yanghijrahnya (1) karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah
dan
Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah
dan
Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia
yang
dikehendakinya atau karena wanita yang ingin
dinikahinya
maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana)
yang
dia niatkan.
(Riwayat
dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il
bin
Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al
Husain,
Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al Qusyairi An Naishaburi
dan
kedua kita Shahihnya yang merupakan kitab yang paling
shahih
yang pernah dikarang) .
Catatan :
1. Hadits ini merupakan salah satu dari
hadits-hadits yang menjadi inti ajaran Islam. Imam Ahmad dan Imam syafi’I
berkata : Dalam hadits tentang niat ini mencakup sepertiga ilmu. Sebabnya
adalah bahwa perbuatan hamba terdiri dari perbuatan hati, lisan dan anggota
badan, sedangkan niat merupakan salah satu dari ketiganya. Diriwayatkan dari
Imam Syafi’i bahwa dia
berkata : Hadits ini mencakup tujuh puluh
bab dalam fiqh. Sejumlah ulama bahkan ada yang berkata : Hadits ini merupakan
sepertiga Islam.
2. Hadits ini ada sebabnya, yaitu: ada
seseorang yang hijrah dari Mekkah ke Madinah dengan tujuan untuk dapat menikahi
seorang wanita yang konon bernama : “Ummu Qais” bukan untuk mendapatkan
keutamaan hijrah. Maka orang itu kemudian dikenal dengan sebutan “Muhajir Ummi
Qais” (Orang yang hijrah karena Ummu Qais).
Maka dari niat
inilah, nilai keikhlasan kita dihitung. Semoga kita selalu dalam bimbingan dan
bantuan Allah dalam meniti agama ini sesuai dengan tuntunan yang diajarkan
Rasulullah Shallahu Alaihi wa Salam.
Sebelum masuk pada
pembahasan hadits-hadits shahih tentang amalan sehari-hari, ada baiknya kita
mengetahui tentang keutamaan berdzikir agar kita memulai amalan kita dengan
penuh semangat. Berikut beberapa hadits shahih tentang keutamaan berdzikir.
KEUTAMAAN
BERDZIKIR
Allah Ta’ala
berfirman:
“Karena itu, ingatlah
kamu kepadaKu, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu (dengan memberikan rahmat dan
pengampunan). Dan bersyukurlah kepadaKu, serta jangan ingkar (pada nikmatKu)”.
(Al-Baqarah, 2:152).
“Hai, orang-orang
yang beriman, berdzikirlah yang banyak kepada Allah (dengan menyebut namaNya)”.
(Al-Ahzaab, 33:42).
“Laki-laki dan
perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, maka Allah menyediakan untuk
mereka pengampunan dan pahala yang agung”. (Al-Ahzaab, 33:35).
“Dan sebutlah (nama)
Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut (pada siksaanNya),
serta tidak mengeraskan suara, di pagi dan sore hari. Dan janganlah kamu
termasuk orang-orang yang lalai”. (Al-A’raaf, 7:205).
Rasul
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
مَثَلُ
الَّذِيْ يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِيْ لاَ يَذْكُرُ رَبَّهُ مَثَلُ الْحَيِّ
وَالْمَيِّتِ
Perumpamaan
orang yang ingat akan Rabbnya dengan orang yang tidak ingat Rabbnya laksana
orang yang hidup dengan orang yang mati. [1]
((أَلاَ
أُنَبِّئُكُمْ بِخَيْرِ أَعْمَالِكُمْ، وَأَزْكَاهَا عِنْدَ مَلِيْكِكُمْ،
وَأَرْفَعِهَا فِيْ دَرَجَاتِكُمْ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ إِنْفَاقِ الذَّهَبِ
وَالْوَرِقِ، وَخَيْرٍ لَكُمْ مِنْ أَنْ تَلْقَوْا عَدُوَّكُمْ فَتَضْرِبُوْا
أَعْنَاقَهُمْ وَيَضْرِبُوْا أَعْنَاقَكُمْ))؟ قَالُوْا بَلَى. قَالَ: ((ذِكْرُ
اللهِ تَعَالَى)).
“Maukah kamu, aku tunjukkan perbuatanmu
yang terbaik, paling suci di sisi Rajamu (Allah), dan paling mengangkat
derajatmu; lebih baik bagimu dari infaq emas atau perak, dan lebih baik bagimu
daripada bertemu dengan musuhmu, lantas kamu memenggal lehernya atau mereka
memenggal lehermu?” Para sahabat yang hadir berkata: “Mau (wahai Rasulullah)!”
Beliau bersabda: “Dzikir kepada Allah Yang Maha Tinggi”. [2]
Rasul Shallallahu’alaihi
wasallam bersabda:
يَقُوْلُ
اللهُ تَعَالَى: ((أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِيْ بِيْ، وَأَنَا مَعَهُ
إِذَا ذَكَرَنِيْ، فَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ نَفْسِهِ ذَكَرْتُهُ فِيْ نَفْسِيْ،
وَإِنْ ذَكَرَنِيْ فِيْ مَلأٍ ذَكَرْتُهُ فِيْ مَلأٍ خَيْرٍ مِنْهُمْ، وَإِنْ
تَقَرَّبَ إِلَيَّ شِبْرًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ ذِرَاعًا، وَإِنْ تَقَرَّبَ
إِلَيَّ ذِرَاعًا تَقَرَّبْتُ إِلَيْهِ بَاعًا، وَإِنْ أَتَانِيْ يَمْشِيْ
أَتَيْتُهُ هَرْوَلَةً)).
Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai
dengan persangkaan hambaKu kepadaKu, Aku bersamanya (dengan ilmu dan rahmat)
bila dia ingat Aku. Jika dia mengingatKu dalam dirinya, Aku mengingatnya dalam
diriKu. Jika dia menyebut namaKu dalam suatu perkumpulan, Aku menyebutnya dalam
perkumpulan yang lebih baik dari mereka. Bila dia mendekat kepadaKu sejengkal,
Aku mendekat kepadanya sehasta. Jika dia mendekat kepadaKu sehasta, Aku
mendekat kepadanya sedepa. Jika dia datang kepadaKu dengan berjalan (biasa),
maka Aku mendatanginya dengan berjalan cepat”. [3]
وَعَنْ عَبْدِ
اللهِ بْنِ بُسْرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ
إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ
أَتَشَبَّثُ بِهِ. قَالَ: ((لاَ يَزَالُ لِسَانُكَ رَطْبًا مِنْ ذِكْرِ
اللهِ)).
Dari Abdullah bin Busr
Radhiallahu’anhu, dia berkata: Bahwa ada seorang lelaki berkata: “Wahai,
Rasulullah! Sesungguhnya syari’at Islam telah banyak bagiku, oleh karena itu,
beritahulah aku sesuatu buat pegangan”. Beliau bersabda: “Tidak hentinya
lidahmu basah karena dzikir kepada Allah (lidahmu selalu mengucapkannya).” [4]
Rasul
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
((مَنْ
قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللهِ فَلَهُ حَسَنَةٌ، وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ
أَمْثَالِهَا، لاَ أَقُوْلُ: {الـم} حَرْفٌ؛ وَلَـكِنْ: أَلِفٌ حَرْفٌ، وَلاَمٌ
حَرْفٌ، وَمِيْمٌ حَرْفٌ)).
“Barangsiapa yang membaca satu huruf
dari Al-Qur’an, akan mendapatkan satu kebaikan. Sedang satu kebaikan akan
dilipatkan sepuluh semisalnya. Aku tidak berkata: Alif laam miim, satu huruf.
Akan tetapi alif satu huruf, lam satu huruf dan mim satu huruf.” [5]
وَعَنْ
عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: خَرَجَ رَسُوْلُ اللهِ وَنَحْنُ
فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ: ((أَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنْ يَغْدُوَ كُلَّ
يَوْمٍ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ إِلَى الْعَقِيْقِ فَيَأْتِيْ مِنْهُ بِنَاقَتَيْنِ
كَوْمَاوَيْنِ فِيْ غَيْرِ اِثْمٍ وَلاَ قَطِيْعَةِ رَحِمٍ؟ ))
فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ نُحِبُّ ذَلِكَ. قَالَ: ((أَفَلاَ
يَغْدُوْ أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَعْلَمَ، أَوْ يَقْرَأَ آيَتَيْنِ مِنْ
كِتَابِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ، وَثَلاَثٌ خَيْرٌ لَهُ
مِنْ ثَلاَثٍ، وَأَرْبَعٌ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَرْبَعٍ، وَمِنْ أَعْدَادِهِنَّ مِنَ
اْلإِبِلِ)).
Dari Uqbah bin Amir Radhiallahu’anhu,
dia berkata: “Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam keluar, sedang kami di
serambi masjid (Madinah). Lalu beliau bersabda: “Siapakah di antara kamu yang
senang berangkat pagi pada tiap hari ke Buthhan atau Al-Aqiq, lalu kembali
dengan membawa dua unta yang besar punuknya, tanpa mengerjakan dosa atau
memutus sanak?” Kami (yang hadir) berkata: “Ya kami senang, wahai Rasulullah!”
Lalu beliau bersabda: “Apakah seseorang di antara kamu tidak berangkat pagi ke
masjid, lalu memahami atau membaca dua ayat Al-Qur’an, hal itu lebih baik
baginya daripada dua unta. Dan (bila memahami atau membaca) tiga (ayat) akan
lebih baik daripada memperoleh tiga (unta). Dan (bila memahami atau mengajar)
empat ayat akan lebih baik baginya daripada memperoleh empat (unta), dan
demikian dari seluruh bilangan unta.” [6]
Rasulullah
Shallallahu’alaihi wasallam bersabda:
((مَنْ
قَعَدَ مَقْعَدًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ اللهِ تِرَةٌ،
وَمَنِ اضْطَجَعَ مَضْجَعًا لَمْ يَذْكُرِ اللهَ فِيْهِ كَانَتْ عَلَيْهِ مِنَ
اللهِ تِرَةٌ)).
“Barangsiapa yang duduk di suatu tempat,
lalu tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, pastilah dia mendapatkan hukuman
dari Allah dan barangsiapa yang berbaring dalam suatu tempat lalu tidak
berdzikir kepada Allah, pastilah mendapatkan hukuman dari Allah.” [7]
((مَا
جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِسًا لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ فِيْهِ، وَلَمْ يُصَلُّوْا عَلَى
نَبِيِّهِمْ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ، فَإِنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ وَإِنْ
شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ)).
“Apabila suatu kaum duduk di majelis,
lantas tidak berdzikir kepada Allah dan tidak membaca shalawat kepada Nabinya,
pastilah ia menjadi kekurangan dan penyesalan mereka, maka jika Allah
menghendaki bisa menyiksa mereka dan jika menghendaki mengampuni mereka.” [8]
((مَا
مِنْ قَوْمٍ يَقُوْمُوْنَ مِنْ مَجْلِسٍ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ فِيْهِ إِلاَّ
قَامُوْا عَنْ مِثْلِ جِيْفَةِ حِمَارٍ وَكَانَ لَهُمْ حَسْرَةً)).
“Setiap kaum yang berdiri dari suatu
majelis, yang mereka tidak berdzikir kepada Allah di dalamnya, maka mereka
laksana berdiri dari bangkai keledai dan hal itu menjadi penyesalan mereka (di
hari Kiamat).” [9]
---------------------------------------
[1] HR. Al-Bukhari dalam Fathul Bari 11/208. Imam Muslim meriwayatkan dengan lafazh sebagai berikut:
“Perumpamaan rumah yang digunakan untuk dzikir kepada Allah dengan rumah yang tidak digunakan untuk dzikir, laksana orang hidup dengan yang mati”. (Shahih Muslim 1/539).
[2] HR. At-Tirmidzi 5/459, Ibnu Majah 2/1245. Lihat pula Shahih Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/316.
[3] HR. Al-Bukhari 8/171 dan Muslim 4/2061. Lafazh hadits ini riwayat Al-Bukhari.
[4] HR. At-Tirmidzi 5/458, Ibnu Majah 2/1246, lihat pula dalam Shahih At-Tirmidzi 3/139 dan Shahih Ibnu Majah 2/317.
[5] HR. At-Tirmidzi 5/175. Lihat pula Shahih At-Tirmidzi 3/9 dan Shahih Jaami’ush Shaghiir 5/340.
[6] HR. Muslim 1/553.
[7] HR. Abu Dawud 4/264; Shahihul Jaami’ 5/342.
[8] Shahih At-Tirmidzi 3/140.
[9] HR. Abu Dawud 4/264, Ahmad 2/389 dan Shahihul Jami’ 5/176.

0 Comments