SIRAH
NABAWIYAH ( 01 )
Syaikh
Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury
Sumber
: Kitab Ar-Rahiqul Makhtum
POSISI
BANGSA ARAB DAN KAUMNYA
Pada hakikatnya istilah Sirah Nabawiyah merupakan ungkapan
tentang risalah yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wasallam kepada
manusia, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya, dari 'ibadah
kepada hamba menuju 'ibadah kepada Allah. Dan tidak mungkin bisa menghadirkan
gambarannya yang amat menawan secara pas dan mengena kecuali setelah melakukan
perbandingan antara latar belakang risalah ini (risalah Nabawiyyah) dan
pengaruhnya. Berangkat dari sinilah kami merasa perlu mengemukakan fasal yang
berbicara tentang kaum-kaum 'Arab dan perkembangannya sebelum Islam, serta
tentang kondisi-kondisi saat Nabi Muhammad diutus.
Posisi
Bangsa Arab
Menurut bahasa, 'Arab artinya padang pasir, tanah gundul
dan gersang yang tiada air dan tanamannya. Sebutan dengan istilah ini sudah
diberikan sejak dahulu kala kepada jazirah Arab, sebagaimana sebutan yang
diberikan kepada suatu kaum yang disesuaikan dengan daerah tertentu, lalu
mereka menjadikannya sebagai tempat tinggal.
Jazirah Arab dibatasi Laut Merah dan gurun Sinai di sebelah
barat, di sebelah timur dibatasi teluk Arab dan sebagian besar negara Iraq
bagian selatan, di sebelah selatan dibatasi laut Arab yang bersambung dengan
lautan India dan di sebelah utara dibatasi negeri Syam dan sebagian kecil dari
negara Iraq, sekalipun mungkin ada sedikit perbedaan dalam penentuan batasan
ini. Luasnya membentang antara satu juta mil kali satu juta tiga ratus ribu
mil.
Jazirah Arab memiliki peranan yang sangat besar karena
letak geografisnya. Sedangkan dilihat dari kondisi internalnya, Jazirah Arab
hanya dikelilingi gurun dan pasir di segala sudutnya. Karena kondisi seperti
inilah yang membuat jazirah Arab seperti benteng pertahanan yang kokoh, yang
tidak memperkenankan bangsa asing untuk menjajah, mencaplok dan menguasai
Bangsa Arab. Oleh karena itu kita bisa melihat penduduk jazirah Arab yang hidup
merdeka dan bebas dalam segala urusan semenjak zaman dahulu. Sekalipun begitu
mereka tetap hidup berdampingan dengan dua imperium yang besar saat itu, yang
serangannya tak mungkin bisa dihadang andaikan tidak ada benteng pertahanan
yang kokoh seperti itu.
Sedangkan hubungannya dengan dunia luar, Jazirah Arab
terletak di benua yang sudah dikenal semenjak dahulu kala, yang mempertautkan
daratan dan lautan. Sebelah barat Laut merupakan pintu masuk ke benua Afrika,
sebelah timur laut merupakan kunci untuk masuk ke benua Eropa dan sebelah timur
merupakan pintu masuk bagi bangsa-bangsa non-Arab, timur tengah dan timur
dekat, terus membentang ke India dan Cina. Setiap benua mempertemukan lautnya
dengan Jazirah Arab dan setiap kapal laut yang berlayar tentu akan bersandar di
ujungnya.
Karena letak geografisnya seperti itu pula, sebelah utara
dan selatan dari jazirah Arab menjadi tempat berlabuh berbagai bangsa untuk saling
tukar-menukar perniagaan, peradaban, agama dan seni.
Kaum-kaum
Arab
Ditilik dari silsilah keturunan dan cikal-bakalnya, para
sejarawan membagi kaum-kaum Arab menjadi tiga bagian, yaitu:
Arab
Bâ-idah, yaitu kaum-kaum Arab
terdahulu yang sudah punah dan tidak mungkin sejarahnya bisa dilacak secara
rinci dan komplit, seperti 'Ad, Tsamud, Thasm, Judais, 'Imlaq dan lain-lainnya.
Arab
'ÂAribah, yaitu kaum-kaum Arab
yang berasal dari keturunan Ya'rib bin Yasyjub bin Qahthan, atau disebut pula
Arab Qahthaniyah.
Arab
Musta'ribah. yaitu
kaum-kaum Arab yang berasal dari keturunan Isma'il, yang disebut pula Arab
'Adnaniyah.
Tempat kelahiran Arab 'ÂAribah atau kaum Qahthan adalah
negeri Yaman, lalu berkembang menjadi beberapa kabilah dan suku, yang terkenal
adalah dua kabilah:
Kabilah Himyar, yang terdiri dari beberapa suku terkenal, yaitu Zaid
Al-Jumhur, Qudhâ'ah dan Sakâsik.
Kahlân, yang
terdiri dari beberapa suku terkenal yaitu Hamadan, Anmar, Thayyi', Madzhaj,
Kindah, Lakham, Judzam, Azd, Aus, Khazraj, anak keturunan Jafnah raja Syam dan
lain-lainnya. Suku-suku Kahlân banyak yang hijrah meninggalkan Yaman, lalu
menyebar ke berbagai penjuru Jazirah menjelang terjadinya banjir besar saat
mereka mengalami kegagalan dalam perdagangan. Hal ini sebagai akibat dari
tekanan Bangsa Romawi dan tindakan mereka menguasai jalur perdagangan laut dan
setelah mereka menghancurkan jalur darat serta berhasil menguasai Mesir dan
Syam, (dalam riwayat lain) dikatakan : bahwa mereka hijrah setelah terjadinya
banjir besar tersebut.
Juga tidak menutup kemungkinan jika hal itu sebagai akibat
dari persaingan antara suku-suku Kahlan dan suku-suku Himyar, yang berakhir
dengan keluarnya suku-suku Himyar dan pindahnya suku-suku Kahlân.
Suku-Suku
Kahlân yang berhijrah bisa dibagi menjadi empat golongan :
Azd
; Kehijrahan mereka
langsung dipimpin oleh pemuka dan pemimpin mereka, 'Imran bin 'Amru Muzaiqiya'.
Mereka berpindah-pindah di negeri Yaman dan mengirim para pemandu; lalu
berjalan ke arah utara dan timur. Dan inilah rincian akhir tempat-tempat yang
pernah mereka tinggali setelah perjalanan mereka tersebut : Tsa'labah bin Amru
pindah dari al-Azd menuju Hijaz, lalu menetap diantara (tempat yang bernama)
Tsa'labiyah dan Dzi Qar. Setelah anaknya besar dan kuat, dia pindah ke Madinah
dan menetap disana. Dan diantara keturunan Tsa'labah ini adalah Aus dan
Khazraj, yaitu dua orang anak dari Haritsah bin Tsa'labah.
Diantara keturunan mereka yang bernama Haritsah bin 'Amr
(atau yang dikenal dengan Khuza'ah) dan anak keturunannya berpindah ke Hijaz,
hingga mereka singgah di Murr azh-Zhahran, yang selanjutnya membuka tanah suci
dan mendiami Makkah serta mengekstradisi penduduk aslinya, al-Jarahimah.
Sedangkan 'Imran bin 'Amr singgah di Omman lalu bertempat tinggal di sana
bersama anak-anak keturunannya, yang disebut Azd Omman, sedangkan
kabilah-kabilah Nashr bin aI-Azd menetap di Tuhâmah, yang disebut Uzd Syanû-ah.
Jafnah bin 'Amr pergi ke Syam dan menetap di sana bersama anak keturunannya.
Dia dijuluki Bapak para raja al-Ghassâsinah, yang dinisbatkan kepada mata air
di Hijaz, yang dikenal dengan nama Ghassân yang telah mereka singgahi sebelum
akhimya pindah ke Syam.
Lakhm
dan Judzam; mereka pindah ke bagian
Timur dan Barat. Tokoh di kalangan mereka adalah Nashr bin Rabi'ah, pemimpin
raja-raja Al-Manadzirah di Hirah.
Bani
Thayyi' ; Mereka berpindah ke
arah utara setelah perjalanan Azd hingga singgah di antara dua gunung; Aja dan
Salma, dan akhirnya menetap di sana dan kedua gunung tersebut kemudian dekenal
dengan dua gunungThayyi'.
Kindah; Mereka singgah di Bahrain, kemudian terpaksa
meninggalkannya dan singgah di Hadhramaut. Namun nasib mereka tidak jauh
berbeda dengan apa yang menimpa mereka saat berada di Bahrain, hingga mereka
pindah lagi ke Najd. Di sana mereka mendirikan pemerintahan yang besar dan
kuat. Tapi pemerintahan itu cepat berakhir tanpa meninggalkan bekas sedikitpun.
Di sana ada satu kabilah Himyar yaitu Qudha'ah (meskipun masih diperselisihkan
penisbatannya kepada Himyar)yang meninggalkan Yaman dan bermukim di daerah
pedalaman as-Samawah, pinggiran Iraq.*
* Lihat rincian tentang kabilah-kabilah ini dan hijrahnya
dalam buku-buku: "Nasab Ma'd wal Yaman al-Kabir", "Jamharatun
Nasab", "al-'Iqdul Farid", "Qalaidul Jumman",
"Nihayatul Arib", "Tarikh Ibni Khaldun", "Saba-ikuz
Zahab" , dll. Dan terdapat perbedaan yang cukup mencolok dalam berbagai
referensi sejarah dalam menetapkan periode hijrah-hijrah yang mereka lakukan
dan sebab-sebabnya. Tapi setel•h mengamati secara cermat dari berbagai sudut
pandang, maka kami telah menetapkan pendapat yang kami anggap kuat dalam bab
ini berdasarkan dalil yang ada.
Adapun Arab Musta'ribah, mereka merupakan cikal bakal dari
nenek moyang mereka yang tertua Ibrahim 'Alaihis-Salam, yang berasal dari negeri
Iraq, dari sebuah kota yang disebut Ar, dan terletak di pinggir barat sungai
Eufrat, berdekatan dengan Kufah. Cukup banyak upaya penggalian dan pengeboran
yang dilakukan untuk mengungkap rincian yang mendetail tentang kota ini dan
keluarga Nabi Ibrahim 'Alaihis Salam serta kondisi religius dan sosial yang ada
di negeri itu.
Sudah diketahui bersama bahwa Ibrahim ' Alaihis Salam
hijrah dari Iraq ke Hâran atau Hirran, termasuk pula ke Palestina, dan
menjadikan negeri itu sebagai pijakan/markas dakwah beliau. Beliau banyak
menyusuri pelosok negeri ini dan lainnya, dan beliau pernah sekali mengunjungi
Mesir. Fir-'aun (sebutan bagi penguasa Mesir) kala itu berupaya untuk melakukan
tipu daya dan niat buruk terhadap istri beliau, Sarah. Namun Allah membalas
tipu dayanya (senjata makan tuan). Dan tersadarlah Fir'aun itu betapa kedekatan
hubungan Sarah dengan Allah hingga akhirnya ia jadikan anaknya,** Hajar sebagai
abdinya (Sarah). Hal itu dia lakukan sebagai tanda pengakuannya terhadap
keutamaannya, kemudian dia (Hajar) dikawinkan oleh Sarah dengan Ibrahim.
Ibrahim Alaihis Salam kembali ke Palestina dan Allah menganugerahinya Isma'il
dari Hajar. Sarah terbakar api cemburu. Dia memaksa Ibrahim untuk
mengekstradisi Hajar dan putranya yang masih kecil, Isma'il. Maka beliau
membawa keduanya ke Hijaz dan menempatkan mereka berdua di suatu lembah yang
tiada ditumbuhi tanaman (gersang dan tandus) di sisi Baitul Haram, yang saat
itu hanyalah berupa gunduka~gundukan tanah. Rasa gundah mulai menggayuti
pikiran Ibrahim, Beliau menoleh ke kiri dan kanan, lalu meletakkan mereka
berdua di dalam tenda, diatas mata air zamzam, bagian atas masjid. Dan pada
saat itu tak ada seorang pun yang tinggal di Makkah dan tidak ada mata air.
Beliau meletakkan didekat mereka kantong kulit yang berisi kurma, dan wadah
air. Setelah itu beliau kembali lagi ke Palestina. Berselang beberapa hari
kemudian, bekal dan air pun habis. Sementara tidak ada mata air yang mengalir.
Disana tiba-tiba mata air Zamzam memancar berkat karunia Allah, sehingga bisa
menjadi sumber penghidupan bagi mereka berdua hingga batas waktu tertentu.
Kisah mengenai hal ini sudah banyak diketahui secara lengkapnya.
** Menurut kisah yang sudah banyak dikenal, Hajar adalah
seorang budak wanita. Tetapi seorang penulis kenamaan, al-'Allamah al-Qadhy
Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury telah melakukan penelitian secara seksama
bahwa Hajar adalah seorang wanita merdeka, dan dia adalah putri Fir'aun
sendiri. Lihat buku "Rahmatun lil'alamin, 2/3637 dan juga buku
"Tarikh Ibni Khaldun", 2/1/77.
Suatu kabilah dari Yaman (Jurhum Kedua) datang setelah itu
dan bermukim di Mekkah atas perkenan dari ibu Isma'il . Ada yang mengatakan,
mereka sudah berada di sana sebelum itu, tepatnya di lembah-lembah di pinggir
kota Makkah. Adapun riwayat Bukhari menegaskan bahwa mereka singgah di Mekkah
setelah kedatangan Isma'il dan ibunya, sebelum Isma'il menginjak remaja. Mereka
sudah biasa melewati lembah Makkah ini sebelum itu.
Dari waktu ke waktu Ibrahim datang ke Makkah untuk
menjenguk keluarganya. Dalam hal ini tidak diketahui berapa kali
kunjungan/perjalanan yang dilakukannya, Hanya saja menurut beberapa referensi
sejarah yang dapat dipercaya, kunjungan itu dilakukan sebanyak empat kali.
Allah telah menyebutkan di dalam Al-Qur'an, bahwa Dia Ta'ala memperlihatkan
Ibrahim dalam mimpinya seolah-olah dia menyembelih anaknya, Isma'il. Maka
beliau langsung melaksanakan perintah ini. Allah berfirman :
"Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim
menbaringkan anaknya atar pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan,
kami panggillah dia, 'Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah mrmbenarkan mimpi
itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan, Kami tebus
anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. " (Ash-Shaffat: 103-107).
Didalam Kitab Kejadian disebutkan bahwa umur Isma'il
selisih tiga belas tahun lebih tua dari Ishaq. Secara tekstual, kisah ini
menunjukkan bahwa peristiwa itu tejadi sebelum kelahiran Ishaq sebab kabar
gembira tentang kelahiran Ishaq disampaikan setelah pengupasan kisah ini secara
keseluruhan.
Setidak-tidaknya kisah ini mengandung satu kisah perjalanan
sebelum Isma'il menginjak remaja. Sedangkan tiga kisah selanjutnya telah
diriwayatkan oleh Imam Bukhari secara panjang lebar dari Ibnu 'Abbas secara
marfu', yang intinya bahwa ketika remaja Isma'il dan belajar bahasa Arab dari
kabilah Jurhum, mereka merasa tertarik kepadanya, lalu mereka mengawinkannya
dengan salah seorang wanita golongan mereka dan saat itu ibu Isma'il sudah
meninggal dunia. Maka suatu saat Ibrahim hendak menjenguk keluarga yang ditinggalkannya
setelah terjadinya pernikahan tersebut, beliau tidak mendapatkan Isma'il, lalu
beliau bertanya kepada istrinya mengenai suaminya, Isma'il dan kondisi mereka
berdua. Istri Isma'il mengeluhkan kehidupm mereka yang melarat. Maka Ibrahim
menitip pesan agar suaminya nanti mengganti palang pintu rumahnya. Setelah
diberitahu, Isma'il mengerti maksud pesan ayahnya. Maka Isma'il menceraikan
istrinya itu dan kawin lagi dengan wanita lain, yaitu putri Madhdhadh bin 'Amr,
pemimpin dan pemuka kabilah Jurhum menurut pendapat kebanyakan (sejarawan-pen).
Setelah perkawinan Isma'il yang kedua ini, Ibrahim datang
lagi, namun tidak bertemu dengan Isma'il lalu akhirnya kembali ke Palestina
setelah beliau menanyakan kepada istrinya tersebit tentang Isma'il dan kondisi
mereka berdua, isterinya memuij kepada Allah (atas apa yang dianugerahkan
kepada mereka berdua). Kemudian Ibrahim kembali menitip pesan lewat istri
Isma'il, agar Isma'il memperkokoh palang pintu rumahnya. Pada kedatangan yang
ketiga kalinya Ibrahim bisa bertemu dengan Isma'il, yang saat itu sedang meraut
anak panahnya di bawah sebuah pohon di dekat zamzam. Tatkala melihat kehadiran
ayahnya, Isma'il berbuat sebagaimana layaknya seorang anak yang lama tidak
bersua bapaknya, begitu juga dengan Ibrahim. Pertemuan ini terjadi setelah
sekian lama yang sangat jarang dijumpai seorang ayah yang penuh rasa kasih
sayang dan lemah lembut bisa menahan kesabaran untuk bersua anaknya, begitu
pula dengan Isma'il, sebagai anak yang berbakti dan shalih. Dan kali ini mereka
berdua membangun Ka'bah dan meninggikan pondasinya. Kemudian Ibrahim pun
mengumumkan kepada khalayak agar melakukan haji sebagaimana yang diperintahkan
oleh Allah kepadanya.
Dari perkawinannya dengan putri Madhdhadh, Isma'il
dikaruniai oleh Allah sebanyak dua belas orang anak yang semuanya laki-laki,
yaitu: Nabat atau Nabayuth, Qidar, Adba-il, Mubsyam, Misyma', Duma, Misya,
Hidad, Yatma, Yathur, Nafis dan Qaidaman. Dari mereka inilah kemudian
berkembang menjadi dua belas kabilah, yang semuanya menetap di Mekkah untuk
beberapa lama. Mata pencaharian mayoritas mereka adalah berdagang dari negeri
Yaman ke negeri Syam dan Mesir. Selanjutnya kabilah-kabilah ini menyebar di
berbaga i penjuru Jazirah, dan bahkan hingga keluar Jazirah, kemudian seiring
dengan pejalanan waktu, keadaan mereka tidak lagi terdeteksi, kecuali anak
keturunan Nabat dan Qidar.
Peradaban anak keturunan Nabat mengalami kemajuan di bagian
utara Hijaz. Mereka mampu mendirikan pemerintahan yang kuat dan menguasai
daerah-daerah di sekitarnya, dan menjadikan Al-Bathra' sebagai ibukotanya. Tak
seorangpun yang mampu melawan mereka hingga datangnya pasukan Romawi yang
berhasil melindas mereka. Sekelompok Peneliti berpendapat bahwa raja-raja
keturunan keluarga besar Ghassan, termasuk juga kaum Anshor dari suku Aus dan
Khazraj bukan berasal dari keturunan keluarga besar Qahthan, tetapi mereka
adalah dari keturunan keluaraga besar Nabat, anak Isma'il dan sisa-sisa mereka
masih berada di kawasan itu, dan pendapat ini diambil oleh Imam Bukhari sedangkan
Imam Ibnu Hajar menguatkan pendapat yang mengatakan bahwa anak keturunan
keluarga besar Qahthan adalah berasal dari keturunan keluarga besar Nabat.
Adapun anak keturunan Qidar bin Isma'il masih menetap di
Makkah, beranak pinak di sana hingga menurunkan 'Adnan dan anaknya Ma'ad. Dari
dialah orang-orang Arab Adnaniyah menisbatkan nasab mereka. Dan Adnan adalah
nenek moyang kedua puluh satu dalam silsilah keturunan Nabi Shallallahu 'alaihi
Wasallam. Diriwayatkan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, jika beliau
menyebutkan nasabnya dan sampai kepada Adnan, maka beliau berhenti dan
bersabda, "Para ahli silsilah nasab banyak yang berdusta", lalu
beliau tidak melanjutkannya. Segolongan ulama memperbolehkan mengangkat nasab
dari Adnan ke atas dan melemahkan (mendho'ifkan) hadits yang mengisyaratkan hal
itu (hadits yang disebut diatas). Menurut mereka berdasarkan penelitian yang
detail; sesungguhnya antara Adnan dan Ibrahim 'Alaihis-Salam terdapat empat
puluh keturunan.
Keturunan Ma'ad dari anaknya, Nizar telah berpencar
kemana-mana (menurut suatu pendapat, Nizar adalah satu-satunya anak Ma'ad). Dan
Nizar sendiri mempunyai empat orang anak, yang kemudian berkembang menjadi
empat kabilah yang besar, yaitu: Iyad, Anmar, Rabi'ah dan Mudhar. Dua kabilah
terakhir inilah yang paling banyak marga dan sukunya. Sedangkan dari Rabi'ah
muncul Asad bin Rabi'ah, Anzah, Abdul-Qais, dua anak Wa-il ;Bakr dan Taghlib,
Hanifah dan lain-lainnya.
Sedangkan kabilah Mudhar berkembang menjadi dua suku yang
besar, yaitu Qais 'Ailan bin Mudhar dan marga-marga Ilyas bin Mudhar. Dan dari
Qais 'Ailan muncul Bani Sulaim, Bani Hawazin, Bani Ghathafan. Kemudian dari
Ghathafan muncul 'Abs, Dzibyan, Asyja' dan Ghany bin A'shar.
Dari Ilyas bin Mudhar muncul Tamim bin Murrah, Hudzail bin Mudrikah,
Bani Asad bin Khuzaimah dan marga-marga Kinanah bin Khuzaimah. Dan dari Kinanah
muncul Quraisy, yaitu anak keturunan Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah.
Quraisy terbagi menjadi beberapa kabilah, yang terkenal
adalah Jumuh, Sahm, 'Udai, Makhzum, Tim, Zuhrah dan suku-suku Qushay bin Kilab,
yaitu Abdud Dar bin Qushay, Asad bin Abdul 'Uzza bin Qushay dan Abdu Manaf bin
Qushay.
Sedangkan Abdu Manaf mempunyai empat anak: Abdu Syams,
Naufal, al-Muththalib dan Hasyim. Hasyim adalah keluarga yang dipilih oleh
Allah yang diantaanya muncul Muhammad bin Abdullah bin Abdul-Muththalib bin
Hasyim. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah memilih isma'il dari anak
keturunan Ibrahim, memilih Kinanah dari anak keturunan Isma'il, memilih Quraisy
dari anak keturunan Bani Kinanah, memilih Bani Hasyim dari keturunan Quraisy
dan memilihku dari keturuan Bani Hasyim. ".(H.R. Muslim dan at-Turmudzy).
Dari al-'Abbas bin Abdul Muththalib, dia berkata,
"Rasulullah Shallallahu 'alaihi Wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah menciptakan makhluk, lalu Dia
menjadikanku dan sebaik-baik golongan mereka dan sebaik-baik dua golongan,
kemudian memilih beberapa kabilah, lalu menjadikanku diantara sebaik-baik
kabilah, kemudian memilih beberapa keluarga Ialu menjadikanku diantara
sebaik-baik keluarga mereka, maka aku adalah sebaik-baik jiwa diantara mereka
dan sebaik-baik keluarga diantara mereka". (Diriwayatkan oleh
at-Turmudzy).
Setelah anak-anak 'Adnan beranak-pinak, mereka berpencar
diberbagai tempat di penjuru jazirah Arab, menjelajahi tempat-tempat yang
banyak curah hujannya dan ditumbuhi oleh tanaman.
Abdul Qais dan keturunan Bakr bin Wa-il serta keturunan
Tamim pindah ke Bahrain dan menetap di sana. Sedangkan Bani Hanifah bin Sha'b
bin Ali bin Bakr bergerak menuju Yamamah dan singgah di Hijr, ibukota Yamamah.
Semua keluarga Bakr bin Wa-il menetap di berbagai penjuru tanah Jazirah, mulai
dari Yamamah, Bahrain, Saif Kazhimah hingga mencapai laut, kemudian tanah
kosong Iraq, al-Ablah hingga Haita.
Taghlib menetap di Jazirah dekat kawasan Eufrat,
diantaranya terdapat suku-suku yang pernah hidup berdampingan dengan (kabilah)
Bakr sedangkan Bani Tamim menetap di daerah pedalaman Bashrah. Bani Sulaim
menetap dekat Madinah, dari Wadi al-Qura hingga ke Khaibar hingga bagian timur
Madinah mencapai batas dua gunung hingga berakhir di kawasan pegungan Hurrah.
Sementara Tsaqif menetap di Tha'if dan Hawazin di timur Makkah dipinggiran
Authas yaitu dalam perjalanan antara Makkah dan Bashrah. Dan Bani Asad bermukim
di timur Taima' dan barat Kufah. Mereka dan Taima' diantarai perkampungan
Buhtur dari suku Thayyi'. Sedangkan masa perjalanan mereka dan Kufah ditempuh
selama lima hari. Ada lagi suku Dzubyan yang bermukim di dekat Taima' menuju
Huran. Di Tihamah tersisa beberapa suku-suku Kinanah, sedangkan di Makkah
tinggal suku-suku Quraisy. Mereka berpencar-pencar dan tidak ada sesuatupun
yang bisa menghimpun mereka, hingga muncul Qushay bin Kilab. Dialah yang
menyatukan mereka dan membentuk satu kesatuan yang bisa mengangkat kedudukan
dan martabat mereka.
Bersambung . . .
image source : blog latarghria jofania
Bersambung . . .
image source : blog latarghria jofania

0 Comments